Sekilas tentang Pulau Moyo

Kawasan konservasi

Pulau Moyo merupakan salah satu destinasi wisata yang secara Administratif berada di Desa Labuan Aji dan Desa Sebotok Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Pulau Moyo terletak di sebelah utara Pulau Sumbawa. Secara astronomis, Pulau Moyo berada pada 117º27’43” - 117º35’42” Bujur Timur dan 8º9’36” - 8º23’19” Lintang Selatan.

Pulau Moyo ditunjuk sebagai kawasan Konservasi Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut melalui SK Menteri Kehutanan No.308/Kpts-II/1986 tanggal 29 September 1986 dengan luas 22.250 Ha Taman Buru dan 6000 Ha Taman Wisata Alam Laut. pengelolaan Kawasan Konservasi ini dilakukan oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia c.q Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat.

Iklim di Pulau Moyo umumnya beriklim tropis, Curah hujan antara 1250 mm/th di daerah rendah dan 1500-2000 mm/th di daerah dataran tinggi. Jenis tanah Regosol kelabu dan Litosol bahan induk abu vulkanis intermediate. Keadaan perairan di Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo mempunyai dasar perairan yang landai. Wilayah dasar perairan yang dangkal umumnya ditumbuhi berbagai jenis koloni karang dengan pola penyebaran yang bervariasi antara mengelompok dan patchy coral serta merupakan habitat berbagai biota karang. Selain itu dibagian antara koloni karang yang kosong merupakan substrat berpasir sedikit berbatu. Kondisi airnya secara umum jernih dan khususnya dibagian yang dangkal penetrasi sinar matahari dapat mencapai dasar perairan, hal tersebut memungkinkan pertumbuhan berbagai biota dasar perairan menjadi subur. Adapun pola arus nampaknya cenderung dipengaruhi oleh keadaan laut sekitarnya seperti cuaca, tinggi gelombang dan pasang surut. Selain itu di bagian selatan Pulau moyo arus laut umumnya relatif deras mengingat daerah tersebut merupakan selat antara Pulau Moyo dan daratan Pulau Sumbawa.

Mengingat letak Pulau Moyo yang strategis karena terletak diantara obyek wisata lain seperti Gili Matra (Lombok), TWA Pulau Satonda (Bima-Dompu) dan Taman Nasional Komodo. Pulau Moyo merupakan daerah wisata yang cukup potensial untuk dikembangkan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara

     

    Sejarah Kawasan

  1. Hutan Tutupan (Boshreverse) SK Dewan Pemerintahan Daerah Peralihan Swapraja Sumbawa Nomor 216 Tahun 1957 tanggal 2 November 1957 dengan luas 9.000 Ha.
  2. Kawasan Hutan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 501/Kpts/Um/1972 tanggal 23 Oktober 1972 dan pada tahun 1973 dilakukan tata batas dengan luas 18.765 Ha.
  3. Suaka Marga Satwa ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 756/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982 dengan luas 23.031 Ha.
  4. Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 308/Kpts-II/1986 tanggal 29 September 1986 dengan luas 22.460 Ha Taman Buru dan 6.000 Ha Taman Wisata Alam Laut.

 

    Potensi Kawasan

Taman Buru Pulau Moyo mempunyai potensi keanekaragaman hayati cukup tinggi baik flora maupun fauna. Tipe vegetasinya merupakan vegetasi hutan pantai dataran rendah yang terdiri dari vegetasi pohon – pohonan, perdu / semak belukar dan padang savana yang luas. Selain satwa yang telah ditetapkan sebagai satwa buru seperti Rusa timor ( Cervus timorensis ), Sapi liar ( Bos javanicus ) dan Babi hutan (Sus sp), berbagai jenis burung yang tergolong langka dan dilindungi Undang – undang juga terdapat disini seperti Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), Burung Gosong (Megapodius reinwartditii), Koakiau (Philemon buceroides), Beo Sumbawa (Gracula religiosa venerate) serta berbagai jenis burung lainnya seperti Punglor (Zoothera sp), Ayam Hutan (Gallus sp), Elang bondol ( Haliastur Indus ) dan sebagainya.

Disamping keaneka ragaman hayati tersebut terdapat juga beberapa obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) seperti air terjun berundak Mata Jitu yang terdapat di bagian barat Pulau Moyo yang dapat diakses melalui desa Labuan Aji. Di beberapa tempat seperti ai manis dan tanjung pasir terdapat goa – goa yang merupakan habitat dari kalelawar dan burung wallet ( Collocalia sp). Dengan potensi pantai dan keadaan perairan serta potensi yang ada didalamnya, dapat dimanfaatkan atau dikembangkan sebagai tempat berwisata seperti memancing, snorkeling, bersampan, menyelam dan sebagainya. Daya tarik wisata lain yang terdapat di Pulau Moyo adalah hamparan savana yang terdapat dilokasi Raja Sua dapat dilakukan kegiatan penjelajahan / penyusuran hutan, pengamatan burung (Bird Watching) dan merupakan lokasi yang tepat untuk melakukan wisata buru yang dilakukan dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu Pulau Moyo juga menawarkan aktifitas wisata pendidikan dan penelitian terhadap keanekaragaman hayati.

     

    Rencana Pengembangan / Pengelolahan Kawasan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kehutanan Republik Indonesia selaku pengelola kawasan Taman Buru dan Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo telah melakukan kegiatan Perencanaan Pengelolaan kawasan untuk lima tahun ke depan dengan beberapa garis besar pengembangan kawasan sebagai berikut :

  1. Rekonstruksi batas kawasan
  2. Penegakkan hukum di bidang Kehutanan.
  3. Pengembangan sarana dan prasarana wisata
  4. Inovasi promosi dan pengembangan produk wisata
  5. Peningkatan investasi
  6. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
  7. Pengembangan paket wisata
  8. Menciptakan peluang pendapatan baru bagi masyarakat



Proyeksi pengembangan kawasan bahwa Taman Buru Pulau Moyo dapat dijadikan salah satu destinasi wisata yang mampu menjadi pilar pembangunan dibidang pariwisata yang dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pariwisata di Kabupaten Sumbawa.
Dalam upaya pengembangan investasi pemanfaatan jasa lingkungan dan pengusahaan pariwisata alam, Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTB mengupayakan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Menyiapkan data dan informasi tentang potensi dalam kawasan
  2. Mengkaji peluang usaha jasa lingkungan dan pariwisata alam
  3. Melaksanakan kajian secara ekonomis terhadap potensi jasa lingkungan
  4. Menyusun peraturan yang mengakomodir peluang usaha masyarakat
  5. Memanfaatkan jaringan mitra kerja yang telah ada
  6. Meningkatkan promosi secara terpadu

 

Partisipasi dari :

Syamsul Ibrahim
PEH Pelaksana
Seksi Konservasi Wilayah II Sumbawa, Balai KSDA NTB.

 

 

 

 

    .